Kyuhyun Oppa Photos




















English Drama

ENGLISH DIALOGUE
 
REONI
 
In the crossroad, Fiyya, Fifi, Himala, and Isti to collid. Fifi stand and midday Himala hand , next midday Fiyya foot , and than midday Isti foot . Arrive finally they turn round and while to think that they is best friends.
Fifi : Himala….?
Himala : Fifi……..?
Isti : Fiyya….?
Fiyya : Isti….?
All : hahaha……Hi guys…!!
And finally they one another to know and TOS together.
Fifi : How are you guys?
All : We are fine. Thank you. And you?
Fifi : I’m fine to. Thank you.
Fifi : Do you have time guys..?
Fiyya : Yes, we have. Why?
Fifi : I hope we can chatting and share story about our life in a good place. Do you have idea?
Isty : Yes, I have. And I know a good place around here, let’s go follow me..! We go to Ryuga’s restoran.
Himala : Yes, it’s a good idea.

At the Ryuga’s retoran.
Wahyu : Welcome to Ryuga’s restoran. You can sit in this place.
All : Thank you.
Wahyu : We have many food and drinks in the restoran.
Here the list.
Himala : Do you know? This restoran served our favorite food..!
Fiyya : That’s good choice..!
Isti : We want four choco banana ice cream. How much it?
Wahyu : It’s 100.000,00.
Fifi : Here you are.
Isti : By the way, what your job now Fifi?
Fifi : I’m Singer guys. Do you not watch me perform last night in TV?
Fiyya : Oh, that’s you ! my guest is right.
All : Hahahaha……Fifi ! Congratulations!
Fiyya : Your voice and your performance is good.
Himala : By the way, lats week I buy a new book. And I read the writers name is Istiqomah Katin. Is that you?
Isti : Yes of couse, hehehehe. What do you think about my book?
Himala : Your book is very interesting. I like it.
Fifi : Congratulations Isti! Your dream come true.
Isti : How about you fiyya ?
Fiyya : I’m a Doctor.
Fifi : I ever look your name on Doctor’s list at international hospital. That’s you ?
Fiyya : Yes, you right. That’s me.
Isty : By the way, Fifi you look nice with your yellow jacket. May I know. Where are you buy it?
Fifi : I buy it in the Azzahra gallery.
Himala : That's my gallery !
Fifi : What? That’s yours?
Himala : Yes, but I very seldom to stay right there.
Fifi : Oh my good. I’m very like to shopping in that place. Your shop is so cool.
Himala : Thank you so much Fifi.
When they’s handphone to sound.
All : I have a happy news guys. Hahahahah……..
Isti : Ok guys, I teenlits group crown me to will be scarred writer.
Fhie : I will performance to the second to right.
Himala : I will design the clothes for Fifi.
Fiyya : And I will irustigate the president’s health.
All : Hah…!What? president’s? you're not kidding Fiyya?
Fiyya : No guys, I'm not kidding.
All : Congratulations guys…!!!!


Fhie : I think we have many jobs now.

All: Yes, you’re right.

Fiyya: Maybe we must go home right now.

Himala: Okay.

Isti: Bye guys !

All: Bye…

"Let Go"

“Let Go”


Di ruang guru

Ibu Guru          : Apa lagi yang kau lakukan Caraka?
Caraka            : Mereka yang duluan cari masalah, bu. Saya hanya membela diri.
Ibu Guru          : Ya, tapi kan tidak dengan cara kekerasan. Mau tak mau ibu harus  memberi kamu hukuman
Caraka            : Hukuman?!
Ibu Guru          : Kamu harus menjadi anggota mading sekolah bersama Nathan, Nadya, dan Sarah.
Caraka            : Apa? Sekelompok dengan mereka? Si sinis, Si keras kepala, dan Si penakut itu. Saya tidak mau bu.
Ibu Guru       : Ibu sangat membutuhkan bantuanmu, Raka. Ayolah, apa kamu mau hukumanmu di skors selama 2 tahun?
 Caraka           : Apa? 2 tahun ! (menelan ludah)
                          Baiklah, aku mau karena terpaksa dan karena tidak ada hukuman lain.
Ibu Guru          : Oke, sekarang masuk kelas dan nanti jam istirahat langsung ke ruang Veritas.
Caraka            : Baiklah,Bu.

Di kelas IPS.
Caraka            : Tok..tok..tok. Maaf bu telat.
Ibu                  : Ya sudah jangan berdiri di situ.., ayo masuk..!
                           Nadya !
Nadya             : Ya, bu.
Ibu Guru          : Coba sebutkan 5 negara Asia Timur!
Nadya             : Hmm, China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara.
Ibu Guru          : Bagus. Sarah !
Sarah               : Aduh, Mampus deh.
Ibu Guru          : Coba sebutkan sebab umum dan sebab khusus terjadinya perang dunia         
                           2?
Sarah               : Hmm, apa ya bu? Gak tau bu.
Ibu Guru          : Itukan pelajaran sejarah SMP, masa kamu nggak ingat. Yaudah,   
                           sekarang coba kamu sebutkan anggota 3 serangkai.
Sarah               : hmmm, (mencoba meminta pertolongan caraka, tetapi caraka tetap diam, takut dimarah ibu guru)
Ibu Guru         : Ayo, sebutkan !
Sarah              : Ki hajar Dewantara bu…
Ibu Guru         : Dua nya lagi siapa?
Sarah              : Ya Ki Hajar Dewantara sama dua orang temannya bu..,
                        Sekelas tertawa
Ibu                  : Kamu main-main di pelajaran ibu Sarah.., Nilaimu ibu kurangi.
                         Raka, Jawab !
Caraka            : Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Ibu                 : Bagus, tapi karena tadi kamu mencoba membantu Sarah, sekarang jawab pertanyaan awal ibu.
Caraka            : Baik bu, ……….

Seluruh kelas terdiam sejenak sampai akhirnya, ibu Hesti bertepuk tangan diikuti yang lainnya.
Tettttttttttttttt……..tettt…….
Anak-anak       : yeeeeeee….

Saat istirahat, Caraka langsung berjalan menuju ruang Veritas. Saat diperjalanan, ia bertemu Nadya.

Nadya             : Eh, lihat Sarah nggak?
Caraka            : Mana aku tahu, emang aku baby sitternya?
Nadya             : Huh, dasar cowok resek. Terus, Kamu mau kemana?
Caraka            : Mau ke ruang Veritas. Kenapa? Jangan buang waktu aku deh. (Sambil
   Berjalan meninggalkan Nadya)
Nadya             : Eh, tunggu. (Sambil mengejar Raka)
Caraka            : Ada apa lagi sih?
Nadya            : Tolong kamu bilang sama yang lain kalau aku nggak bisa ke ruang veritas, karena ada rapat OSIS.
Caraka            :  Ya sudah, nanti aku sampaikan.

Nadya langsung menghilang seketika, kemudian Caraka melanjutkan perjalanannya menuju ruang Veritas.

Di ruang veritas.

Caraka             : Sorry, aku telat.
Sarah               : Nggak apa2.
Caraka             : Nathan mana?
Sarah               : Dia bilang ada urusan sebentar, jadi agak telat. Tapi kalau Nadya aku    nggak  tau.( Sambil Mengetik Sesuatu)
Caraka             : Oh, Nadya, dia tadi bilang hari ini dia nggak bisa datang karena ada  rapat OSIS.
Sarah               : Oh, (Ketika sedang asyik ngetik) Astaga,aku lupa ngasih rancangan perubahan logo Veritas ke ibu Ratna. Aku ke ruang guru dulu ya.
Caraka             : Mau aku aja yang nganter?
Sarah                : Nggak usah, lagian ada yang mau ku omongin sama ibu Ratna.
Caraka             : Apa sih yang di tulis sama Anak penakut itu? Dari tadi serius amat  (Sambil melirik ke arah laptop Sarah)
Caraka             : (Ketika melihat tulisan Sarah) lomba Menulis Esai Lingkungan Hidup?     Sepertinya cewek penakut itu berniat mengikuti lomba itu.
Caraka            : (Raka membaca tulisan sarah) Cewek ini memang Genius.Ini tulisan yang sangat inspiratif, bagus, dan terencana.

Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba Nathan datang.

Nathan             : Hei !
Caraka             :Oh, ternyata kamu. Dari mana saja kamu?
Nathan             : Bukan urusan kamu. Mana Nadya dan Sarah?
Caraka             : Sarah ke tempat bu Ratna, dan Nadya ada rapat OSIS.
Nathan            : Oh, ya. Kita buat tugas kelompok fisikanya di rumah kamu saja
Caraka            : Yo’i. Kapan?
Nathan            : Tahun depan. Ya, sekarang lah.
Caraka            : Ya sudah, Apa kata kamu saja deh.

Tiba-tiba Sarah datang.

Sarah               : Hai, maaf aku lama.. Eh, Nathan udah datang ya.. Ayo, kita mulai bikin mading.
Caraka            : Tapi, Sar. Kayaknya aku sama Nathan nggak bisa, soalnya kami mau buat tugas kelompok Fisika di rumah aku.
Sarah          : Oh, kalau begitu, besok aja kita buatnya. Aku juga mau melanjutkan tugasku, (Sambil membawa laptopnya) Bye..
Caraka             : Bye.

Mereka semua hilang setelah berpisah sepuluh menit lalu, tetapi tampak Caraka dan Nathan yang sedang berbincang di depan pagar sekolah.

Caraka            : Let’s go Bro.
Nathan            : Nggak usah lihatkan tampang selengekan kamu itu. Malas aku lihatnya.
Caraka            : Iya.., iya. Dasar.., Sinis-sinis. (Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya)

Saat mereka sedang di perjalanan menuju Rumah Caraka. Tampak Nathan yang capek setelah berjalan cukup jauh.

Caraka             : Kamu nggak apa-apa,Than?
Nathan             : Ya, lagian kamu kok perhatian banget sama aku?
Caraka             : Ya aku takut aja, nanti tiba-tiba kamu pingsan, yang repot kan aku.
Nathan             : Jangan khawatir, aku lebih kuat daripada yang kamu bayangin.
Caraka             : Aku harap juga begitu.

Selama perjalanan mereka habiskan dengan diam. Tetapi, untunglah akhirnya mereka sampai juga di rumah Caraka.

Caraka             : Hmm, kamu nggak apa-apa?
Nathan             : Ya, hanya kepalaku sedikit pusing.
Caraka             : Oh, ya udah kamu tiduran aja dulu. Sekalian aku mau nyari buku fisikanya.
Nathan             : Oh, ya. Kamu tidak perlu khawatir padaku.

Saat Nathan sedang memperhatikan kamar Caraka.

Nathan             : Busyet. Nggak di sangka.
Caraka             : Eh, ada yang salah dengan kamarku?
Nathan             : Nggak, aku bingung aja. Kamu tertarik sama film ya?
Caraka             : Itu sih udah kesenanganku menonton film dan membeli posternya.
Nathan             : Oh, begitu. (masih memandang poster yang tertempel di dinding kamar Caraka)
Caraka             : Eh, kamu beneran nggak apa-apa?
Nathan             : Iya. (sambil menggelengkan kepalanya)
Caraka             : Sakit apa sih?
Nathan             : Kanker Otak. (menjawab dengan santai)
Caraka             : Hah? Kamu serius?
Nathan             : Untuk apa aku bohong.
Caraka           : Oh, jadi ini yang membuatmu sering pusing dan membuat wajahmu pucat tiap hari? Sejak kapan?
Nathan             : Apa pedulimu?
Caraka             : Kok rambutmu nggak rontok?
Nathan             : Tenang aja, sebentar lagi, kalau itu bikin kamu senang.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

Mama Caraka  : Raka, kamu dikamar?
Caraka             : Iya,Ma.
Mama              : Kamu belum masak makan malam,ya?
Caraka             : Hmm, iya,Ma.
Nathan             : Ehh, itu Mamamu?
Caraka             : Iya.
Nathan             : Papamu?
Caraka             : Begitulah, ayo turun. (Caraka menunjukkan foto yang terletak di meja belajarnya)
Nathan             : Aku dengar kamu membenci papamu ya? Kenapa?
Caraka             : Bukan urusanmu.

Mereka berdua langsung turun dari kasur dan langsung keluar.

Mama               :Kamu ngajak teman ya?
Caraka             : Iya.Ma.
Mama              : Ya ampun kamu pucat sekali, nggak apa-apa? (tanya mama Caraka pada Nathan)
Nathan                        : Nggak apa-apa, tante.
Mama              : Ya sudah. Ayo kita makan.

Setelah selesai makan. Nathan pun Pulang.

Nathan              : Terimakasih atas jamuannya tante.
Caraka              : Ya, sama2.
Nathan              : Aku nggak ngomong sama kamu.
Caraka              : Aku juga nggak ngomong sama kamu.
Nathan              : Trus, sama siapa?
Caraka              : Tuh, sama kucing.
Nathan              : Gila kamu ka. Yaudah aku pulang dulu ya tante.
Mama               : Ya, Hati-hati di jalan ya nak. Huh, Dasar Anak-anak.
Caraka          : Astaghfirullah. Buku catatanku ketinggalan di sekolah. Padahal besok ulangan. Aku pergi dulu ya ma.

Di sekolah

Caraka              : Siapa tuh di ruang Veritas, malam-malam gini.
                          Nadya?
Nadya               : Kenapa ada disini?
Caraka              : Ngambil buku ketinggalan. Kamu?
Nadya              : Lagi buat data siswa besok pagi harus dikumpul.
Caraka              : Wow, ternyata pak Johan sadis banget.
Nadya           : Bukan pak Johan yang sadis. Tapi aku yang mengecewakannya. Dia sudah memberikan tugas ini dari sebulan yang lalu.
Caraka             : (Berjalan menuju banyak kertas)
                          Ini belum direkapkan? Aku bantu deh.
Nadya              : Nggak usah. Aku nggak perlu bantuan kamu. Kamu pulang saja.
Caraka             : (membanting kertas) Dengar ya. aku gak peduli kamu butuh bantuanku atau enggak. Kamu ini cewek. Kalau gak aku bantu kamu bakal pulang pagi. Walaupun kamu bisa jaga diri. Setidaknya jaga nama baikmu !
Nadya             : (diam sesaat) Awalnya aku yakin aku bisa. Tapi sekarang aku sadar, aku salah. Ternyata aku lemah. Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal hebat.
Caraka              : kamu gak lemah. Cuma kamu lupa minta tolong.
Nadya               : (menangis)
Caraka           : Ketika wanita menangis itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, tetapi karena dia sudah nggak sanggup berpura-pura kuat.

Di sekolah.

Nadya              :  tok..tok..tok (memukul papan tulis)
                          Teman-teman maafkan aku.
Sarah                : Maaf kenapa?
Nadya           : Seminggu yang lalu, saat pak Anung sakit, beliau memberi tugas . Dan tugas itu harus di kumpul besok.
Sekelas             : Apa?
Nathan              : Emang apa tugasnya?
Nadya              : Mengerjakan 50 soal latihan akhir bab.
Caraka             : Apa? 50 soal? Matematika lagi. Ya tuhan.
Nadya              : Aku benar-benar minta maaf. Aku lupa karena aku sibuk sekali akhir-akhir ini.
Nathan            : Ini salahmu ! Kamu nggak usah membela diri kayak gitu. Kalau kamu sibuk itu urusanmu. Kenapa mesti kami yang harus nanggung.

Nadya pun terdiam.

Nathan            : Jangan sok penting! Kalau mengurusi hal sepele kayak gini saja kamu nggak becus, lebih baik berhenti aja jadi ketua kelas. Aku yakin kami semua nggak akan ada yang merasa kehilangan.

Setelah beberapa detik terdiam. Nadya pun angkat bicara.

Nadya             : Kamu benar Than. Ini salahku. Aku akan mecoba berbicara kepada pak Anung dan minta perpanjang waktu.

Nadya pun bergegas pergi.

Di ruang Veritas.

Sarah                : Maaf, aku telat.
Caraka              : Ya, nggak apa-apa.
Sarah                 : Oh ya, yang lain kemana?
Caraka         : Biasa, lagi di ruang guru mencoba berbicara tentang masalah tadi kepada pak Anung. Mungkin bentar lagi datang.
Sarah                : Oh, (kembali mengetik dan sibuk dengan tulisannnya)
Caraka              : (tiba-tiba caraka memulai pembicaraan) Tulisanmu bagus.
Sarah                : Hah?
Caraka              : Itu yang diruang veritas kemarin.
Sarah                : Masih belum sebanding sama tulisan Nathan dan Nadya.
Caraka              : Nggak, tulisan itu tulisan yang paling bagus yang pernah aku baca?
Sarah                : Kamu baca? Ya tuhan, aku malu banget. Seharusnya nggak ada yang boleh baca tulisan itu.
Caraka              : Sori deh, tapi kamu krim ke lomba esai kan?
Sarah               : Ya enggak lah, Siapa yang mau ngirim ke lomba. Juri-juri pasti langsung membuangnya ke tempat sampah. Aku nggak mau ada yang baca itu dan aku nggak mau ditertwakan.
Caraka              : Ya ampun. Percaya deh, tulisan kamu itu bagus.
Sarah        : Ya, tapi bagaimana kalau menurut juri tulisan aku itu jelek? Bagaimana kalau aku mempermalukan sekolah kita? Bagaimana kalau...
Caraka              : Yaelah, tulisanmu itu, bahkan belum kamu kirim dan kamu sudah mikir, bagaimana kalau..., bagaimana kalau. Bagaimana kamu tahu kalau juri bakal bilang tulisanmu jelek atau bagus kalau kamu belum kirim?
Sarah                : (sambil menggit-gigit kuku) Menurutmu, apa tulisanku benar-benar bagus?
Caraka              : Hmmm, begini saja, kita tanya pendapat Nathan dan Nadya tentang tulisanmu.
Sarah              : Ya sudah deh, eh tapi makasih ya Raka. Aku mau minta bantuan Nathan untuk memperbaiki tulisanku.
Caraka             : Nah, gitu dong. (sambil tersenyum)

Sarah pun pergi ke kantor untuk mengikutsertakan esainya dalam lomba.

Sarah                : Eh Nathan. Than, boleh minta bantuan mu nggak?
Nathan              : Bantuan apa?
Sarah                : Kamu mau nggak baca dan koreksi tulisanku?
Nathan              : (mengambil tulisan Sarah) Yo’i.
Sarah                : Gimana?
Nathan             : Bagus, tapi  kamu tidak usah mengikut sertakan daftar pustakanya. Karena itu esai bukan    KTI.
Sarah                : Owh, thanks ya. Aku pergi dulu ke kantor dulu mau ngirim esaiku.

Saat di perjalanan Sarah bertemu dengan 3 orang kakak kelasnya.

Kakak kelas     : Dek, dengar-dengar kamu ikut lomba esai ya?
Sarah               : Iya mbak. Ada apa?
Kakak kelas     : Dek, kami boleh minta tolong nggak?
Sarah               : Tolong apa mbak?
Kakak kelas     : Kamu pasti mengerti peluang kami cuma saat ini. Kamu kan masih ada waktu 2 tahun lagi. Kalau kamu ikut, sudah pasti kami nggak punya harapan menang. Kamu mau kan,Sar?
Sarah               : Hmm, gimana ya mbak?
Kakak kelas     : Ayolah dek. Tulisanmu bagus. Aku yakin kamu pasti menang tahun depan. Tahun ini nggak ikut, kan nggak masalah. Ayolah..
Sarah               : (Sarah mengangguk pasrah)

Dan bergegas pergi ke kantor utnuk menemui Ibu Ratna. Dan Nathan mengikutinya dari belakang.

Ibu guru          : Ada apa Sarah?
Sarah              : eee.., begini buk. Begini .... buk
Ibu guru          : Begini, begini apa maksud kamu?
Sarah              : Saya berniat membatalkan untuk mengikuti lomba Esai, Bu.
Ibu guru          : Apa? Tapi kenapa Sarah?
Sarah               : Saya merasa kurang siap saja Bu. Yasudah Bu, saya pergi dulu ke ruang veritas.

Setelah mendengar percakapan Sarah dengan Ibu Ratna, Nathan pun pergi ke ruang veritas untuk meberitahukan kepada Caraka dan Nadya.

Di ruang Veritas.

Caraka             : Heran..
Nadya              : Apanya?
Caraka             : Sadar nggak sih, ini kali pertama Cuma ada kita berdua di ruang veritas?
Nadya               : Kamu nyoba merayu,ya?
Caraka          : Hah? Ya Tuhan ! Aku nggak percaya kamu masih mikir aku ngejar    kamu ! Dengar ya,Nad, Aku nggak pernah ngerayu cewek dan kalaupun tiba-tiba aku berniat melakukannya, orang itu sudah pasti bukan kamu.
Nadya             : Oh. Thanks god for that. (Sambil membolak-balik ensiklopedia)

Tiba-tiba Nathan datang.

Nathan            : Wah, aku ketinggalan obrolan yang menyenangkan, ya?
Nadya             : Sangat.
Caraka             : (Mengalihkan pembicaraan) Eh Nad, perayaan ulang tahun sekolah kita jadi, kan?
Nadya             : Iya, rencananya acaranya bakal sampe malam.
Sarah               : Maaf aku telat.
Nathan            : Kamu batal ikut lomba esai itu ya?!
Nadya             : Lomba? Lomba apa?
Sarah               : Hmm.. Kenapa?
Nathan            : Kalau emang kamu nggak mau ikut, kenapa nggak sejak awal aja kamu batalkan. Jadi aku nggak perlu susah-susah bantu kamu. Dan kamu juga nggak perlu susah-susah bikin.

Wajah Sarah memucat dan memandang Caraka seakan-akan memohon bantuan supaya cowok itu membelanya. Tetapi Caraka hanya diam.

Nathan         : Kenapa diam? Aku nggak peduli kalau kamu emang tipe orang yang mau susah-susah melakukan sesuatu, terus membuangnya seakan-akan itu nggak guna. Itu bukan urusanku. Tapi, aku bukan kayak gitu. Waktu, tenaga dan pikiranku sangat berharga. Karena itu, apa yang kamu lakukan ini bikin aku kesal. Aku sudah menyediakan semua itu buat bantu kamu, tapi kamu malah buang begitu saja ke tempat sampah. Apa maksudmu?
Sarah               : Aku nggak bermaksud apa-apa kok. Aku cuma menolong..
Nathan           : Menolong? Apa aku nggak salah dengar. Mana mungkin orang sepertimu mau menolong orang sedangkan kamu saja perlu ditolong dan selalu minta tolong.

Sarah              : Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu boleh marah-marah sama aku sampai kamu puas. Aku siap untuk dimarahimu.
Nathan            : Jangan sok tegar deh jadi cewek. Sebentar lagi juga kamu pasti nangis, minta kasihan dari yang lain. Iya kan?!
Sarah               : Aku nggak seperti yang kamu pikir. Aku nggak pernah minta belas kasihan dari siapa pun. (Sambil terseduh-seduh menahan tangis dan berpangku kepada Nadya)
Nadya             : Kamu keterlaluan banget sih Than. Dasar bencong beraninya sama perempuan doang.
Nathan            : Diam kamu cewek resek. (Hampir menampar Nadya)
Caraka             : Sudah, semuanya sudah! Eh, cukup ya Than! Aku nggak tahu kenapa hari ini kamu benar-benar seperti orang yang nggak punya hati. Tadi pagi kamu sudah menghina dan memaki-maki Nadya, sekarang Sarah. Dan mungkin nanti aku yang kena juga.  
Nathan            : Sudahlah Ka, Aku tahu kamu suka kan pada mereka dan ingin selalu membantu mereka.
Caraka             : Apa maksud mu?
Nathan            : Alah, dasar pengecut kamu. Suka bilang saja, jangan jadi orang pengecut. Pengecut... pengecut...,
Caraka             : Berisik kamu!! ( Sambil menorong Nathan hingga Nathan terjatuh)
Nathan            : Itulah kamu Ka, bisanya main fisik aja. Pakek otak dong. (Sambil bebicara sinis)
Caraka             : Tutup mulut kamu itu. (Hampir memukul Nathan)

Dengan segera Nadya dan Sarah menarik tangan Raka dan meninggalkan Nathan Sendiri.

Nadya             : Kurasa, rapat akan dibatalkan hingga batas waktu yang nggak bisa ditentukan. (Sambil meninggalkan Nathan)

Beberapa hari kemuadian. Nathan selalu absen dari sekolah. Teman-temannya bingung dan memutuskan untuk menjenguknya.

Caraka             : Aduh, gimana nih? Kenapa Nathan nggak masuk ya sejak beberapa hari ini?
Sarah               : Mungkin karena masalah kemarin, makanya Nathan nggak masuk.
Nadya             : Mungkin, kemarin kan kamu telah mendorongnya sampai jatuh.
Caraka             : Ya ampun, aku lupa. Aku telah mendorongnya kemarin. Mana Nathan punya penyakit itu lagi.
Sarah               : Hah? penyakit apa?
Caraka             : Aduh, keceplosan deh. Sebenarnya...
Nadya             : Sebenarnya apa?
Caraka             : Nathan punya penyakit kanker otak.
Sarah               : Hah?
Nadya             : Ya Allah, bagaimana sekarang kita ke rumah Nathan dan meminta maaf kepadanya?
Sarah               : Setuju, aku juga merasa bersalah padanya.
Caraka             : Apalagi aku, Ya sudah sekarang kita ke rumah Nathan.

Di rumah Nathan.

Caraka             : Permisi, Bapak, papanya Nathan ya?
Papa Nathan    : Ya, saya ayahnya Nathan.
Caraka             : Bagaimana keadaan Nathan om?
Papa Nathan    : Memburuk. Kesehatannya turun drastis tiga hari terakhir.
                          Kalian pasti tau kalau Nathan sakit kan?
Sarah               : (mengangguk) kanker otak kan om.
Nadya             : Apa dia bisa sembuh om ?
Papa Nathan   : Kata dokter, tumornya bisa diangkat dengan operasi. Tapi, dalam operasi,      selain ada kemungkinan gagal, masih ada kemungkinan meninggal di meja operasi.
Sarah               : Lalu kenapa dia enggak dioperasi?
Papa Nathan    : Dia enggak mau.
Caraka             : Kenapa Nathan tidak mau om?
Papa Nathan    : Karena dia bilang, sudah tidak ada harapan hidup lagi. Hmm, Om boleh minta tolong nggak?
Nadya             : Tolong apa om?
Papa Nathan    : Tolong bujuk Nathan supaya dia mau di operasi.
Sarah               : Baik om, kami akan berusaha membujuk Nathan supaya dia mau di operasi.
Caraka             : Apa kami bisa bertemu dengan Nathan om?
Papa Nathan    : Oh silahkan.

Mereka pun masuk menemui Nathan.

Nathan             : Kalian? Mau apa kesini?
Caraka             : Menemuimu.
Nathan             : Bukannya udah ku bilang supaya berhenti menemuiku?
Setelah ini jangan datang lagi ! Persahabatan kita sudah berakhir. Jangan pernah menemuiku lagi.
Caraka            : Berisik ! Kalau kamu nggak mau ketemu aku lagi, itu terserah kamu ! Tapi bagiku enggak. Berhenti bikin keputusan buat orang lain. Aku menemuimu atau nggak, aku yang memutuskan sendiri.
Nathan            : Kamu ini benar-benar keras kepala !
Caraka            : Emang, tapi aku nggak kepala batu kayak kamu !
                          Kalau emang kamu merasa seberat itu buat pisah sama teman-teman, kenapa nggak berusaha mempertahankan hidupmu sekarang?
Nathan           : Gampang kalau ngomong? Bukan kamu yang dihadapkan pada kematian. Emangnya, kalau kamu di posisiku, kamu mau di operasi dengan resiko mati di meja operasi? Hah?
Caraka          : Aku mau. Aku mau melakukannya. Kesempatan sekecil apapun yang memungkinkan aku bisa berkumpul lagi sama orang-orang yang aku cintai akan aku ambil, bahkan walaupun resikonya mati di meja opersai. Harapan sekecil apapun akan kuperjuangkan demi orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Nathan        : Tapi, itu kamu. Jumlah orang-orang yang kamu cintai dan mencintaimu emang membuat hidupmu patut diperjuangkan. Beda denganku. Sejak semula, saat ibuku meninggalkan aku, aku emang pengen mati. Orang yang kucintai dan mencintaiku sudah nggak ada lagi.
Caraka             : Kamu bilang, sejak kematian ibumu nggak ada lagi yang kamu cintai dan mencintaimu? Lalu kamu pikir kami ini apa? Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Apalagi ayahmu.
Sarah               : Kamu udah menjadi bagian dari kami dan kami tahu walaupun selama ini kamu kelihatan nggak peduli sebenarnya nggak ada yang lebih peduli pada kami daripada kamu.
Nadya             : Apa yang sudah kaulakukan padaku, Sarah, Caraka, dan yang lainnya menjadi bukti semua itu. Sikap dinginmu pun aku tahu buat melindungi kami.
Caraka             : Jadi, apa kami nggak cukup untuk diperjuangkan?
Nathan            : Ya sudah, aku nggak sanggup melawan kalian yang keras itu. Mungkin kalau aku mengikuti omongan kalian, kalian akan berhenti mengangguku.
Caraka          : Nah, gitu dong. Harus kamu tahu Than, Seorang sahabat nggak akan membiarkan sahabatnya sendiri menahan kesedihan dan kesakitan sendiri. Seorang sahabat akan membantu meringankan dan mungkin menggantikan seorang sahabat akan rasa sakit sahabatnya untuk dirinya.

Akhirnya Nathan mau di operasi. Operasi yang dilakukannya dapat mengangkat tumornya. Namun, karena sudah menyebar ke daerah-daerah vital, nyawanya tidak terselamatkan lagi. Dan hari ini adalah hari pemakamannya.

Caraka             : Kamu pergi Than. Aku benci sama kamu. Kamu udah ninggalin aku. Aku gak akan maafin kamu. Kamu tega ninggalin kami.
(di tangan nya ada surat dari nathan)
Sarah               : Udalah Ka, kamu harus ikhlasin Nathan.
Caraka             :  (meluk Nadya) Selamat tinggal Nathan. Kamu adalah sahabat terbaik kami.

Akhirnya mereka semua hidup bahagia dan berusaha melupakan Nathan....

Thursday, January 24, 2013

Kyuhyun Oppa Photos

Posted by Himala Putri at 11:53 PM 0 comments



















English Drama

Posted by Himala Putri at 11:27 PM 0 comments
ENGLISH DIALOGUE
 
REONI
 
In the crossroad, Fiyya, Fifi, Himala, and Isti to collid. Fifi stand and midday Himala hand , next midday Fiyya foot , and than midday Isti foot . Arrive finally they turn round and while to think that they is best friends.
Fifi : Himala….?
Himala : Fifi……..?
Isti : Fiyya….?
Fiyya : Isti….?
All : hahaha……Hi guys…!!
And finally they one another to know and TOS together.
Fifi : How are you guys?
All : We are fine. Thank you. And you?
Fifi : I’m fine to. Thank you.
Fifi : Do you have time guys..?
Fiyya : Yes, we have. Why?
Fifi : I hope we can chatting and share story about our life in a good place. Do you have idea?
Isty : Yes, I have. And I know a good place around here, let’s go follow me..! We go to Ryuga’s restoran.
Himala : Yes, it’s a good idea.

At the Ryuga’s retoran.
Wahyu : Welcome to Ryuga’s restoran. You can sit in this place.
All : Thank you.
Wahyu : We have many food and drinks in the restoran.
Here the list.
Himala : Do you know? This restoran served our favorite food..!
Fiyya : That’s good choice..!
Isti : We want four choco banana ice cream. How much it?
Wahyu : It’s 100.000,00.
Fifi : Here you are.
Isti : By the way, what your job now Fifi?
Fifi : I’m Singer guys. Do you not watch me perform last night in TV?
Fiyya : Oh, that’s you ! my guest is right.
All : Hahahaha……Fifi ! Congratulations!
Fiyya : Your voice and your performance is good.
Himala : By the way, lats week I buy a new book. And I read the writers name is Istiqomah Katin. Is that you?
Isti : Yes of couse, hehehehe. What do you think about my book?
Himala : Your book is very interesting. I like it.
Fifi : Congratulations Isti! Your dream come true.
Isti : How about you fiyya ?
Fiyya : I’m a Doctor.
Fifi : I ever look your name on Doctor’s list at international hospital. That’s you ?
Fiyya : Yes, you right. That’s me.
Isty : By the way, Fifi you look nice with your yellow jacket. May I know. Where are you buy it?
Fifi : I buy it in the Azzahra gallery.
Himala : That's my gallery !
Fifi : What? That’s yours?
Himala : Yes, but I very seldom to stay right there.
Fifi : Oh my good. I’m very like to shopping in that place. Your shop is so cool.
Himala : Thank you so much Fifi.
When they’s handphone to sound.
All : I have a happy news guys. Hahahahah……..
Isti : Ok guys, I teenlits group crown me to will be scarred writer.
Fhie : I will performance to the second to right.
Himala : I will design the clothes for Fifi.
Fiyya : And I will irustigate the president’s health.
All : Hah…!What? president’s? you're not kidding Fiyya?
Fiyya : No guys, I'm not kidding.
All : Congratulations guys…!!!!


Fhie : I think we have many jobs now.

All: Yes, you’re right.

Fiyya: Maybe we must go home right now.

Himala: Okay.

Isti: Bye guys !

All: Bye…

"Let Go"

Posted by Himala Putri at 10:56 PM 0 comments
“Let Go”


Di ruang guru

Ibu Guru          : Apa lagi yang kau lakukan Caraka?
Caraka            : Mereka yang duluan cari masalah, bu. Saya hanya membela diri.
Ibu Guru          : Ya, tapi kan tidak dengan cara kekerasan. Mau tak mau ibu harus  memberi kamu hukuman
Caraka            : Hukuman?!
Ibu Guru          : Kamu harus menjadi anggota mading sekolah bersama Nathan, Nadya, dan Sarah.
Caraka            : Apa? Sekelompok dengan mereka? Si sinis, Si keras kepala, dan Si penakut itu. Saya tidak mau bu.
Ibu Guru       : Ibu sangat membutuhkan bantuanmu, Raka. Ayolah, apa kamu mau hukumanmu di skors selama 2 tahun?
 Caraka           : Apa? 2 tahun ! (menelan ludah)
                          Baiklah, aku mau karena terpaksa dan karena tidak ada hukuman lain.
Ibu Guru          : Oke, sekarang masuk kelas dan nanti jam istirahat langsung ke ruang Veritas.
Caraka            : Baiklah,Bu.

Di kelas IPS.
Caraka            : Tok..tok..tok. Maaf bu telat.
Ibu                  : Ya sudah jangan berdiri di situ.., ayo masuk..!
                           Nadya !
Nadya             : Ya, bu.
Ibu Guru          : Coba sebutkan 5 negara Asia Timur!
Nadya             : Hmm, China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara.
Ibu Guru          : Bagus. Sarah !
Sarah               : Aduh, Mampus deh.
Ibu Guru          : Coba sebutkan sebab umum dan sebab khusus terjadinya perang dunia         
                           2?
Sarah               : Hmm, apa ya bu? Gak tau bu.
Ibu Guru          : Itukan pelajaran sejarah SMP, masa kamu nggak ingat. Yaudah,   
                           sekarang coba kamu sebutkan anggota 3 serangkai.
Sarah               : hmmm, (mencoba meminta pertolongan caraka, tetapi caraka tetap diam, takut dimarah ibu guru)
Ibu Guru         : Ayo, sebutkan !
Sarah              : Ki hajar Dewantara bu…
Ibu Guru         : Dua nya lagi siapa?
Sarah              : Ya Ki Hajar Dewantara sama dua orang temannya bu..,
                        Sekelas tertawa
Ibu                  : Kamu main-main di pelajaran ibu Sarah.., Nilaimu ibu kurangi.
                         Raka, Jawab !
Caraka            : Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Ibu                 : Bagus, tapi karena tadi kamu mencoba membantu Sarah, sekarang jawab pertanyaan awal ibu.
Caraka            : Baik bu, ……….

Seluruh kelas terdiam sejenak sampai akhirnya, ibu Hesti bertepuk tangan diikuti yang lainnya.
Tettttttttttttttt……..tettt…….
Anak-anak       : yeeeeeee….

Saat istirahat, Caraka langsung berjalan menuju ruang Veritas. Saat diperjalanan, ia bertemu Nadya.

Nadya             : Eh, lihat Sarah nggak?
Caraka            : Mana aku tahu, emang aku baby sitternya?
Nadya             : Huh, dasar cowok resek. Terus, Kamu mau kemana?
Caraka            : Mau ke ruang Veritas. Kenapa? Jangan buang waktu aku deh. (Sambil
   Berjalan meninggalkan Nadya)
Nadya             : Eh, tunggu. (Sambil mengejar Raka)
Caraka            : Ada apa lagi sih?
Nadya            : Tolong kamu bilang sama yang lain kalau aku nggak bisa ke ruang veritas, karena ada rapat OSIS.
Caraka            :  Ya sudah, nanti aku sampaikan.

Nadya langsung menghilang seketika, kemudian Caraka melanjutkan perjalanannya menuju ruang Veritas.

Di ruang veritas.

Caraka             : Sorry, aku telat.
Sarah               : Nggak apa2.
Caraka             : Nathan mana?
Sarah               : Dia bilang ada urusan sebentar, jadi agak telat. Tapi kalau Nadya aku    nggak  tau.( Sambil Mengetik Sesuatu)
Caraka             : Oh, Nadya, dia tadi bilang hari ini dia nggak bisa datang karena ada  rapat OSIS.
Sarah               : Oh, (Ketika sedang asyik ngetik) Astaga,aku lupa ngasih rancangan perubahan logo Veritas ke ibu Ratna. Aku ke ruang guru dulu ya.
Caraka             : Mau aku aja yang nganter?
Sarah                : Nggak usah, lagian ada yang mau ku omongin sama ibu Ratna.
Caraka             : Apa sih yang di tulis sama Anak penakut itu? Dari tadi serius amat  (Sambil melirik ke arah laptop Sarah)
Caraka             : (Ketika melihat tulisan Sarah) lomba Menulis Esai Lingkungan Hidup?     Sepertinya cewek penakut itu berniat mengikuti lomba itu.
Caraka            : (Raka membaca tulisan sarah) Cewek ini memang Genius.Ini tulisan yang sangat inspiratif, bagus, dan terencana.

Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba Nathan datang.

Nathan             : Hei !
Caraka             :Oh, ternyata kamu. Dari mana saja kamu?
Nathan             : Bukan urusan kamu. Mana Nadya dan Sarah?
Caraka             : Sarah ke tempat bu Ratna, dan Nadya ada rapat OSIS.
Nathan            : Oh, ya. Kita buat tugas kelompok fisikanya di rumah kamu saja
Caraka            : Yo’i. Kapan?
Nathan            : Tahun depan. Ya, sekarang lah.
Caraka            : Ya sudah, Apa kata kamu saja deh.

Tiba-tiba Sarah datang.

Sarah               : Hai, maaf aku lama.. Eh, Nathan udah datang ya.. Ayo, kita mulai bikin mading.
Caraka            : Tapi, Sar. Kayaknya aku sama Nathan nggak bisa, soalnya kami mau buat tugas kelompok Fisika di rumah aku.
Sarah          : Oh, kalau begitu, besok aja kita buatnya. Aku juga mau melanjutkan tugasku, (Sambil membawa laptopnya) Bye..
Caraka             : Bye.

Mereka semua hilang setelah berpisah sepuluh menit lalu, tetapi tampak Caraka dan Nathan yang sedang berbincang di depan pagar sekolah.

Caraka            : Let’s go Bro.
Nathan            : Nggak usah lihatkan tampang selengekan kamu itu. Malas aku lihatnya.
Caraka            : Iya.., iya. Dasar.., Sinis-sinis. (Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya)

Saat mereka sedang di perjalanan menuju Rumah Caraka. Tampak Nathan yang capek setelah berjalan cukup jauh.

Caraka             : Kamu nggak apa-apa,Than?
Nathan             : Ya, lagian kamu kok perhatian banget sama aku?
Caraka             : Ya aku takut aja, nanti tiba-tiba kamu pingsan, yang repot kan aku.
Nathan             : Jangan khawatir, aku lebih kuat daripada yang kamu bayangin.
Caraka             : Aku harap juga begitu.

Selama perjalanan mereka habiskan dengan diam. Tetapi, untunglah akhirnya mereka sampai juga di rumah Caraka.

Caraka             : Hmm, kamu nggak apa-apa?
Nathan             : Ya, hanya kepalaku sedikit pusing.
Caraka             : Oh, ya udah kamu tiduran aja dulu. Sekalian aku mau nyari buku fisikanya.
Nathan             : Oh, ya. Kamu tidak perlu khawatir padaku.

Saat Nathan sedang memperhatikan kamar Caraka.

Nathan             : Busyet. Nggak di sangka.
Caraka             : Eh, ada yang salah dengan kamarku?
Nathan             : Nggak, aku bingung aja. Kamu tertarik sama film ya?
Caraka             : Itu sih udah kesenanganku menonton film dan membeli posternya.
Nathan             : Oh, begitu. (masih memandang poster yang tertempel di dinding kamar Caraka)
Caraka             : Eh, kamu beneran nggak apa-apa?
Nathan             : Iya. (sambil menggelengkan kepalanya)
Caraka             : Sakit apa sih?
Nathan             : Kanker Otak. (menjawab dengan santai)
Caraka             : Hah? Kamu serius?
Nathan             : Untuk apa aku bohong.
Caraka           : Oh, jadi ini yang membuatmu sering pusing dan membuat wajahmu pucat tiap hari? Sejak kapan?
Nathan             : Apa pedulimu?
Caraka             : Kok rambutmu nggak rontok?
Nathan             : Tenang aja, sebentar lagi, kalau itu bikin kamu senang.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

Mama Caraka  : Raka, kamu dikamar?
Caraka             : Iya,Ma.
Mama              : Kamu belum masak makan malam,ya?
Caraka             : Hmm, iya,Ma.
Nathan             : Ehh, itu Mamamu?
Caraka             : Iya.
Nathan             : Papamu?
Caraka             : Begitulah, ayo turun. (Caraka menunjukkan foto yang terletak di meja belajarnya)
Nathan             : Aku dengar kamu membenci papamu ya? Kenapa?
Caraka             : Bukan urusanmu.

Mereka berdua langsung turun dari kasur dan langsung keluar.

Mama               :Kamu ngajak teman ya?
Caraka             : Iya.Ma.
Mama              : Ya ampun kamu pucat sekali, nggak apa-apa? (tanya mama Caraka pada Nathan)
Nathan                        : Nggak apa-apa, tante.
Mama              : Ya sudah. Ayo kita makan.

Setelah selesai makan. Nathan pun Pulang.

Nathan              : Terimakasih atas jamuannya tante.
Caraka              : Ya, sama2.
Nathan              : Aku nggak ngomong sama kamu.
Caraka              : Aku juga nggak ngomong sama kamu.
Nathan              : Trus, sama siapa?
Caraka              : Tuh, sama kucing.
Nathan              : Gila kamu ka. Yaudah aku pulang dulu ya tante.
Mama               : Ya, Hati-hati di jalan ya nak. Huh, Dasar Anak-anak.
Caraka          : Astaghfirullah. Buku catatanku ketinggalan di sekolah. Padahal besok ulangan. Aku pergi dulu ya ma.

Di sekolah

Caraka              : Siapa tuh di ruang Veritas, malam-malam gini.
                          Nadya?
Nadya               : Kenapa ada disini?
Caraka              : Ngambil buku ketinggalan. Kamu?
Nadya              : Lagi buat data siswa besok pagi harus dikumpul.
Caraka              : Wow, ternyata pak Johan sadis banget.
Nadya           : Bukan pak Johan yang sadis. Tapi aku yang mengecewakannya. Dia sudah memberikan tugas ini dari sebulan yang lalu.
Caraka             : (Berjalan menuju banyak kertas)
                          Ini belum direkapkan? Aku bantu deh.
Nadya              : Nggak usah. Aku nggak perlu bantuan kamu. Kamu pulang saja.
Caraka             : (membanting kertas) Dengar ya. aku gak peduli kamu butuh bantuanku atau enggak. Kamu ini cewek. Kalau gak aku bantu kamu bakal pulang pagi. Walaupun kamu bisa jaga diri. Setidaknya jaga nama baikmu !
Nadya             : (diam sesaat) Awalnya aku yakin aku bisa. Tapi sekarang aku sadar, aku salah. Ternyata aku lemah. Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal hebat.
Caraka              : kamu gak lemah. Cuma kamu lupa minta tolong.
Nadya               : (menangis)
Caraka           : Ketika wanita menangis itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, tetapi karena dia sudah nggak sanggup berpura-pura kuat.

Di sekolah.

Nadya              :  tok..tok..tok (memukul papan tulis)
                          Teman-teman maafkan aku.
Sarah                : Maaf kenapa?
Nadya           : Seminggu yang lalu, saat pak Anung sakit, beliau memberi tugas . Dan tugas itu harus di kumpul besok.
Sekelas             : Apa?
Nathan              : Emang apa tugasnya?
Nadya              : Mengerjakan 50 soal latihan akhir bab.
Caraka             : Apa? 50 soal? Matematika lagi. Ya tuhan.
Nadya              : Aku benar-benar minta maaf. Aku lupa karena aku sibuk sekali akhir-akhir ini.
Nathan            : Ini salahmu ! Kamu nggak usah membela diri kayak gitu. Kalau kamu sibuk itu urusanmu. Kenapa mesti kami yang harus nanggung.

Nadya pun terdiam.

Nathan            : Jangan sok penting! Kalau mengurusi hal sepele kayak gini saja kamu nggak becus, lebih baik berhenti aja jadi ketua kelas. Aku yakin kami semua nggak akan ada yang merasa kehilangan.

Setelah beberapa detik terdiam. Nadya pun angkat bicara.

Nadya             : Kamu benar Than. Ini salahku. Aku akan mecoba berbicara kepada pak Anung dan minta perpanjang waktu.

Nadya pun bergegas pergi.

Di ruang Veritas.

Sarah                : Maaf, aku telat.
Caraka              : Ya, nggak apa-apa.
Sarah                 : Oh ya, yang lain kemana?
Caraka         : Biasa, lagi di ruang guru mencoba berbicara tentang masalah tadi kepada pak Anung. Mungkin bentar lagi datang.
Sarah                : Oh, (kembali mengetik dan sibuk dengan tulisannnya)
Caraka              : (tiba-tiba caraka memulai pembicaraan) Tulisanmu bagus.
Sarah                : Hah?
Caraka              : Itu yang diruang veritas kemarin.
Sarah                : Masih belum sebanding sama tulisan Nathan dan Nadya.
Caraka              : Nggak, tulisan itu tulisan yang paling bagus yang pernah aku baca?
Sarah                : Kamu baca? Ya tuhan, aku malu banget. Seharusnya nggak ada yang boleh baca tulisan itu.
Caraka              : Sori deh, tapi kamu krim ke lomba esai kan?
Sarah               : Ya enggak lah, Siapa yang mau ngirim ke lomba. Juri-juri pasti langsung membuangnya ke tempat sampah. Aku nggak mau ada yang baca itu dan aku nggak mau ditertwakan.
Caraka              : Ya ampun. Percaya deh, tulisan kamu itu bagus.
Sarah        : Ya, tapi bagaimana kalau menurut juri tulisan aku itu jelek? Bagaimana kalau aku mempermalukan sekolah kita? Bagaimana kalau...
Caraka              : Yaelah, tulisanmu itu, bahkan belum kamu kirim dan kamu sudah mikir, bagaimana kalau..., bagaimana kalau. Bagaimana kamu tahu kalau juri bakal bilang tulisanmu jelek atau bagus kalau kamu belum kirim?
Sarah                : (sambil menggit-gigit kuku) Menurutmu, apa tulisanku benar-benar bagus?
Caraka              : Hmmm, begini saja, kita tanya pendapat Nathan dan Nadya tentang tulisanmu.
Sarah              : Ya sudah deh, eh tapi makasih ya Raka. Aku mau minta bantuan Nathan untuk memperbaiki tulisanku.
Caraka             : Nah, gitu dong. (sambil tersenyum)

Sarah pun pergi ke kantor untuk mengikutsertakan esainya dalam lomba.

Sarah                : Eh Nathan. Than, boleh minta bantuan mu nggak?
Nathan              : Bantuan apa?
Sarah                : Kamu mau nggak baca dan koreksi tulisanku?
Nathan              : (mengambil tulisan Sarah) Yo’i.
Sarah                : Gimana?
Nathan             : Bagus, tapi  kamu tidak usah mengikut sertakan daftar pustakanya. Karena itu esai bukan    KTI.
Sarah                : Owh, thanks ya. Aku pergi dulu ke kantor dulu mau ngirim esaiku.

Saat di perjalanan Sarah bertemu dengan 3 orang kakak kelasnya.

Kakak kelas     : Dek, dengar-dengar kamu ikut lomba esai ya?
Sarah               : Iya mbak. Ada apa?
Kakak kelas     : Dek, kami boleh minta tolong nggak?
Sarah               : Tolong apa mbak?
Kakak kelas     : Kamu pasti mengerti peluang kami cuma saat ini. Kamu kan masih ada waktu 2 tahun lagi. Kalau kamu ikut, sudah pasti kami nggak punya harapan menang. Kamu mau kan,Sar?
Sarah               : Hmm, gimana ya mbak?
Kakak kelas     : Ayolah dek. Tulisanmu bagus. Aku yakin kamu pasti menang tahun depan. Tahun ini nggak ikut, kan nggak masalah. Ayolah..
Sarah               : (Sarah mengangguk pasrah)

Dan bergegas pergi ke kantor utnuk menemui Ibu Ratna. Dan Nathan mengikutinya dari belakang.

Ibu guru          : Ada apa Sarah?
Sarah              : eee.., begini buk. Begini .... buk
Ibu guru          : Begini, begini apa maksud kamu?
Sarah              : Saya berniat membatalkan untuk mengikuti lomba Esai, Bu.
Ibu guru          : Apa? Tapi kenapa Sarah?
Sarah               : Saya merasa kurang siap saja Bu. Yasudah Bu, saya pergi dulu ke ruang veritas.

Setelah mendengar percakapan Sarah dengan Ibu Ratna, Nathan pun pergi ke ruang veritas untuk meberitahukan kepada Caraka dan Nadya.

Di ruang Veritas.

Caraka             : Heran..
Nadya              : Apanya?
Caraka             : Sadar nggak sih, ini kali pertama Cuma ada kita berdua di ruang veritas?
Nadya               : Kamu nyoba merayu,ya?
Caraka          : Hah? Ya Tuhan ! Aku nggak percaya kamu masih mikir aku ngejar    kamu ! Dengar ya,Nad, Aku nggak pernah ngerayu cewek dan kalaupun tiba-tiba aku berniat melakukannya, orang itu sudah pasti bukan kamu.
Nadya             : Oh. Thanks god for that. (Sambil membolak-balik ensiklopedia)

Tiba-tiba Nathan datang.

Nathan            : Wah, aku ketinggalan obrolan yang menyenangkan, ya?
Nadya             : Sangat.
Caraka             : (Mengalihkan pembicaraan) Eh Nad, perayaan ulang tahun sekolah kita jadi, kan?
Nadya             : Iya, rencananya acaranya bakal sampe malam.
Sarah               : Maaf aku telat.
Nathan            : Kamu batal ikut lomba esai itu ya?!
Nadya             : Lomba? Lomba apa?
Sarah               : Hmm.. Kenapa?
Nathan            : Kalau emang kamu nggak mau ikut, kenapa nggak sejak awal aja kamu batalkan. Jadi aku nggak perlu susah-susah bantu kamu. Dan kamu juga nggak perlu susah-susah bikin.

Wajah Sarah memucat dan memandang Caraka seakan-akan memohon bantuan supaya cowok itu membelanya. Tetapi Caraka hanya diam.

Nathan         : Kenapa diam? Aku nggak peduli kalau kamu emang tipe orang yang mau susah-susah melakukan sesuatu, terus membuangnya seakan-akan itu nggak guna. Itu bukan urusanku. Tapi, aku bukan kayak gitu. Waktu, tenaga dan pikiranku sangat berharga. Karena itu, apa yang kamu lakukan ini bikin aku kesal. Aku sudah menyediakan semua itu buat bantu kamu, tapi kamu malah buang begitu saja ke tempat sampah. Apa maksudmu?
Sarah               : Aku nggak bermaksud apa-apa kok. Aku cuma menolong..
Nathan           : Menolong? Apa aku nggak salah dengar. Mana mungkin orang sepertimu mau menolong orang sedangkan kamu saja perlu ditolong dan selalu minta tolong.

Sarah              : Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu boleh marah-marah sama aku sampai kamu puas. Aku siap untuk dimarahimu.
Nathan            : Jangan sok tegar deh jadi cewek. Sebentar lagi juga kamu pasti nangis, minta kasihan dari yang lain. Iya kan?!
Sarah               : Aku nggak seperti yang kamu pikir. Aku nggak pernah minta belas kasihan dari siapa pun. (Sambil terseduh-seduh menahan tangis dan berpangku kepada Nadya)
Nadya             : Kamu keterlaluan banget sih Than. Dasar bencong beraninya sama perempuan doang.
Nathan            : Diam kamu cewek resek. (Hampir menampar Nadya)
Caraka             : Sudah, semuanya sudah! Eh, cukup ya Than! Aku nggak tahu kenapa hari ini kamu benar-benar seperti orang yang nggak punya hati. Tadi pagi kamu sudah menghina dan memaki-maki Nadya, sekarang Sarah. Dan mungkin nanti aku yang kena juga.  
Nathan            : Sudahlah Ka, Aku tahu kamu suka kan pada mereka dan ingin selalu membantu mereka.
Caraka             : Apa maksud mu?
Nathan            : Alah, dasar pengecut kamu. Suka bilang saja, jangan jadi orang pengecut. Pengecut... pengecut...,
Caraka             : Berisik kamu!! ( Sambil menorong Nathan hingga Nathan terjatuh)
Nathan            : Itulah kamu Ka, bisanya main fisik aja. Pakek otak dong. (Sambil bebicara sinis)
Caraka             : Tutup mulut kamu itu. (Hampir memukul Nathan)

Dengan segera Nadya dan Sarah menarik tangan Raka dan meninggalkan Nathan Sendiri.

Nadya             : Kurasa, rapat akan dibatalkan hingga batas waktu yang nggak bisa ditentukan. (Sambil meninggalkan Nathan)

Beberapa hari kemuadian. Nathan selalu absen dari sekolah. Teman-temannya bingung dan memutuskan untuk menjenguknya.

Caraka             : Aduh, gimana nih? Kenapa Nathan nggak masuk ya sejak beberapa hari ini?
Sarah               : Mungkin karena masalah kemarin, makanya Nathan nggak masuk.
Nadya             : Mungkin, kemarin kan kamu telah mendorongnya sampai jatuh.
Caraka             : Ya ampun, aku lupa. Aku telah mendorongnya kemarin. Mana Nathan punya penyakit itu lagi.
Sarah               : Hah? penyakit apa?
Caraka             : Aduh, keceplosan deh. Sebenarnya...
Nadya             : Sebenarnya apa?
Caraka             : Nathan punya penyakit kanker otak.
Sarah               : Hah?
Nadya             : Ya Allah, bagaimana sekarang kita ke rumah Nathan dan meminta maaf kepadanya?
Sarah               : Setuju, aku juga merasa bersalah padanya.
Caraka             : Apalagi aku, Ya sudah sekarang kita ke rumah Nathan.

Di rumah Nathan.

Caraka             : Permisi, Bapak, papanya Nathan ya?
Papa Nathan    : Ya, saya ayahnya Nathan.
Caraka             : Bagaimana keadaan Nathan om?
Papa Nathan    : Memburuk. Kesehatannya turun drastis tiga hari terakhir.
                          Kalian pasti tau kalau Nathan sakit kan?
Sarah               : (mengangguk) kanker otak kan om.
Nadya             : Apa dia bisa sembuh om ?
Papa Nathan   : Kata dokter, tumornya bisa diangkat dengan operasi. Tapi, dalam operasi,      selain ada kemungkinan gagal, masih ada kemungkinan meninggal di meja operasi.
Sarah               : Lalu kenapa dia enggak dioperasi?
Papa Nathan    : Dia enggak mau.
Caraka             : Kenapa Nathan tidak mau om?
Papa Nathan    : Karena dia bilang, sudah tidak ada harapan hidup lagi. Hmm, Om boleh minta tolong nggak?
Nadya             : Tolong apa om?
Papa Nathan    : Tolong bujuk Nathan supaya dia mau di operasi.
Sarah               : Baik om, kami akan berusaha membujuk Nathan supaya dia mau di operasi.
Caraka             : Apa kami bisa bertemu dengan Nathan om?
Papa Nathan    : Oh silahkan.

Mereka pun masuk menemui Nathan.

Nathan             : Kalian? Mau apa kesini?
Caraka             : Menemuimu.
Nathan             : Bukannya udah ku bilang supaya berhenti menemuiku?
Setelah ini jangan datang lagi ! Persahabatan kita sudah berakhir. Jangan pernah menemuiku lagi.
Caraka            : Berisik ! Kalau kamu nggak mau ketemu aku lagi, itu terserah kamu ! Tapi bagiku enggak. Berhenti bikin keputusan buat orang lain. Aku menemuimu atau nggak, aku yang memutuskan sendiri.
Nathan            : Kamu ini benar-benar keras kepala !
Caraka            : Emang, tapi aku nggak kepala batu kayak kamu !
                          Kalau emang kamu merasa seberat itu buat pisah sama teman-teman, kenapa nggak berusaha mempertahankan hidupmu sekarang?
Nathan           : Gampang kalau ngomong? Bukan kamu yang dihadapkan pada kematian. Emangnya, kalau kamu di posisiku, kamu mau di operasi dengan resiko mati di meja operasi? Hah?
Caraka          : Aku mau. Aku mau melakukannya. Kesempatan sekecil apapun yang memungkinkan aku bisa berkumpul lagi sama orang-orang yang aku cintai akan aku ambil, bahkan walaupun resikonya mati di meja opersai. Harapan sekecil apapun akan kuperjuangkan demi orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Nathan        : Tapi, itu kamu. Jumlah orang-orang yang kamu cintai dan mencintaimu emang membuat hidupmu patut diperjuangkan. Beda denganku. Sejak semula, saat ibuku meninggalkan aku, aku emang pengen mati. Orang yang kucintai dan mencintaiku sudah nggak ada lagi.
Caraka             : Kamu bilang, sejak kematian ibumu nggak ada lagi yang kamu cintai dan mencintaimu? Lalu kamu pikir kami ini apa? Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Apalagi ayahmu.
Sarah               : Kamu udah menjadi bagian dari kami dan kami tahu walaupun selama ini kamu kelihatan nggak peduli sebenarnya nggak ada yang lebih peduli pada kami daripada kamu.
Nadya             : Apa yang sudah kaulakukan padaku, Sarah, Caraka, dan yang lainnya menjadi bukti semua itu. Sikap dinginmu pun aku tahu buat melindungi kami.
Caraka             : Jadi, apa kami nggak cukup untuk diperjuangkan?
Nathan            : Ya sudah, aku nggak sanggup melawan kalian yang keras itu. Mungkin kalau aku mengikuti omongan kalian, kalian akan berhenti mengangguku.
Caraka          : Nah, gitu dong. Harus kamu tahu Than, Seorang sahabat nggak akan membiarkan sahabatnya sendiri menahan kesedihan dan kesakitan sendiri. Seorang sahabat akan membantu meringankan dan mungkin menggantikan seorang sahabat akan rasa sakit sahabatnya untuk dirinya.

Akhirnya Nathan mau di operasi. Operasi yang dilakukannya dapat mengangkat tumornya. Namun, karena sudah menyebar ke daerah-daerah vital, nyawanya tidak terselamatkan lagi. Dan hari ini adalah hari pemakamannya.

Caraka             : Kamu pergi Than. Aku benci sama kamu. Kamu udah ninggalin aku. Aku gak akan maafin kamu. Kamu tega ninggalin kami.
(di tangan nya ada surat dari nathan)
Sarah               : Udalah Ka, kamu harus ikhlasin Nathan.
Caraka             :  (meluk Nadya) Selamat tinggal Nathan. Kamu adalah sahabat terbaik kami.

Akhirnya mereka semua hidup bahagia dan berusaha melupakan Nathan....

up